Kau kini tengah bertengadah pada bahu langit
Memelas teduhan pada laut yang dulu kau sebrangi dengan sampan keegoisanmu
Kau menertawai kekerasan hatimu sendiri
Kini jiwamu sadar, namun ragamu memenjarakanmu untuk terus menemaninya menempa mata pedang
Kau tau benar, daun sudah semstinya menuruti angina,
Atau matahari sudah semestinya taat pada petang
Kini kau menjemput malangmu sendiri
Tapi taka pa,
Karena sesungguhnya manusia hanya sibuk berlari menjauhi nestapa
Hanya untu menemui bahwa keberuntungan dan kesuksesan telah berunding dengan kesulitan
Kini, kau bertanya apa bias au berlayar kembalimenuju pantaimu?
Seperti au bertanya lelah pada seorang pengembara
Atau seperti kau bertanya mati pada seorang patah hati
Kau sendiri yang tau jalan keluar dari labirinmu
Hanya kau tau saja,
Semakin sulit jalan labirinmu
Semakin indah berlian di pintu keluarnya